Kesehatan

Kegiatan Konvergensi Dalam Rangka Pencegahan dan Penurunan Stunting di Desa Bungur Baru T.A 2024

Foto Berita

**Konvergensi dalam Rangka Pencegahan dan Penurunan Stunting di Desa Bungur Baru T.A 2024** Pada tanggal 16 Desember 2024, jam 10:00 tepatnya, Desa Bungur Baru ber upaya kolaboratif yang luar biasa dalam menangani masalah stunting yang meresahkan. Kegiatan konvergensi ini bertujuan untuk melindungi generasi penerus Desa Bungur Baru dari dampak buruk stunting serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal anak-anak,Dan dalam kegiatan ini terdapat 20 sasaran anak yang diberi makanan tambahan dalam pencegahan dan penurunan stunting di Desa Bungur Baru ini.

Stunting atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai (terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu dari janin hingga anak berusia dua tahun). 

Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK, disamping berisiko menghambat pertumbuhan fisik (gagal tumbuh) dan rentan terhadap penyakit (gangguan metabolik : DM. Hipertensi, obesitas), juga menghambat perkembangan kognitif (gangguan kognitif motorik) yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK, disamping berisiko menghambat pertumbuhan fisik (gagal tumbuh) dan rentan terhadap penyakit (gangguan metabolik : DM. Hipertensi, obesitas), juga menghambat perkembangan kognitif (gangguan kognitif motorik) yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

Penyebab stunting bersifat multidimensional, antara lain faktor :

  1. Ketahanan pangan (ketersediaan, daya beli dan akses mendapatkan pangan bergizi). Kurangnya akses ke bahan pangan bergizi / bahan makanan mahal menyebab 1 dari 3 ibu hamil mengalami anemia
  2. Lingkungan sosial (norma, pendidikan, tempat kerja, jenis makanan bayi/anak). Praktek pengasuhan yang tidak baik, akibat kurangnya pengetahuan kesehatan dan gizi sebelum serta pada masa kehamilan, menyebabkan 55% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif (Susenas, 2015) dan 1 dari 3 anak usia 6-23 bulan tidak menerima MP-ASI secara tepat (SDKI,2012)
  3. Lingkungan kesehatan (akses, pelayanan preventif, kuratif). Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan sebelum/setelah kelahiran dan pembelajaran dini berkualitas
    • 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD
    • 2 dari 3 bumil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai
    • Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu. Apalagi dimasa pandemi
    • Tidak mendapat akses memadai ke layanan imunisasi
  4. Lingkungan pemukiman (kondisi air, sanitasi, bangunan tempat tinggal). Kurangya akses ke air bersih dan sanitasi

Stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signi?kan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (48,9%), Berat Bayi Lahir Rendah atau BBLR (6,2%), balita kurus atau wasting (10,2%) dan anemia pada balita.

Konvergensi merupakan pendekatan penyampaian intervensi, yang dilakukan secara terkoordinir, terintegrasi dan bersama-sama untuk mencegah stunting, kepada sasaran prioritas. Aksi Konvergensi adalah instrumen dalam bentuk kegiatan, yang digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi, dalam pencegahan dan penurunan stunting. Aksi ini digunakan untuk meningkatkan kualitas pendekatan pelaksanaan program dan perilaku lintas sektor (dari tingkat pusat sampai kabupaten/kota) agar program dan kegiatan intervensi gizi tepat sasaran.

Pembelajaran dari keberhasilan di negara-negara lain menunjukkan bahwa, efektifitas penurunan stunting ditentukan oleh seberapa menyeluruh atau terpadunya intervensi gizi, yang menyasar lokasi dan kelompok sasaran prioritas. Semakin lengkap dan terpadunya intervensi gizi di lokasi dan kelompok sasaran prioritas, maka upaya percepatan penurunan stunting akan semakin efektif.